Kamu pernah dengar
kata hijrah?
Pernah?
Dimana? Di pelajaran Agama Islam ya? :D
Ya, Hijrah.
Izikan aku untuk meng-share pengalamanku mengenai sebuah kata bermakna “Hijrah” ini ya.
Hijrah menurut KBBI berarti pindah. Pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Atau pindah dari suatu keadaan ke keadaan lain. Dahulu kala, aku pernah terjebak dalam suatu keadaan dimana aku selalu berpikir dan merasa terlahir sebagai manusia paling tidak beruntung, banyak masalah, hidup susah, tak ada bakat, galau akan cinta, dll. Hingga masa-masa dulu aku sebut dengan masa jahiliyah. Namun, bukan berarti karena aku menyebutnya masa jahiliyah lantas aku tak pernah mendapatkan suatu kebahagiaan sedikitpun? Aku juga pernah mengalami masa lalu yang indah tepatnya ketika aku kecil. Aku punya masa kecil yang cukup bahagia. Aku lahir di tahun 1995. Kata beberapa orang, masa kecil yang bahagia bisa didapatkan di kelahiran 80an sampai dengan tahun 1995. Dan Alhamdulillah aku masuk didalamnya :D.
Masa kecilku aku bilang bahagia kenapa? Ya, jawabnnya karena aku masih bisa mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan di masa kecil. Tidak dewasa sebelum waktunya atau lebih tepatnya tidak mendewasakan diri sebelum waktunya:D. Tawa, tangis, senda, gurau, canda, pernah aku rasakan. Disini aku ingat congklak, engklek, tortorio, petak umpet, kasti, nenek gerondong, enggrang dan permainan-permainan lainnya telah menjadi keseharianku, yang namun saat ini sudah mulai jarang ditemui di kota-kota besar di Indonesia. Rutinitasku dahulu itu mulai dari pagi sekolah, siang tidur, terkadang main hingga sore, bahkan pernah hingga maghrib dan hingga dikuncikan pintu oleh mama, hehe. Setelah itu, maghrib ngaji di tempatnya Pak Haji.
Dan point ini lah yang membuat aku bersyukur lagi karena aku ditakdirkan untuk bertempat tinggal di tanah kelahiran ku saat ini dan bertemu orang-orang baik salah satunya adalah keluarga Pak Haji Mustofa Aini. Aku merasa bahwa disinilah awal atau pondasiku tentang segala urusan menyangkut agama. Aku mulai belajar ngaji dari nol disini. Dibimbing banyak oleh istrinya yang mengajari huruf Hijaiyah dengan tartil dan betul. Disini juga aku diajarkan doa-doa yang sebelumnya asing di telingaku yang ternyata yang ia ajarkan adalah doa-doa yang Shahih yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadist. Ia juga mengajarkanku hafalan surat-surat pendek dan aku cukup bangga waktu itu bisa sampai ke surat Al-Fajr. Sebuah surat yang cukup panjang untuk anak SD dari kalangan awam (bukan Sekolah islam, ataupyn pesantren).
Teman-teman ngajiku juga diajarkan hal yang sama denganku. Kami dulu sangat akrab, kak Nida, Mbak Tika, Abdullah, Ibnu, Rahmat, Dewi, Mbak Ika, Mbak Ulan, Mas Danang, Mas Olan, dll. Kami bermain sekaligus mengaji bersama. Namun, kebersamaan ini seakan mulai berakhir ketika kami semua sudah mulai beranjak ke jenjang sekolah berikutnya, yaitu SMP. Kami semua berpencar. Ada yang masuk pesantren, MTS, Sekolah Negeri dan juga Sekolah Swasta. Entah mungkin karena kesibukan kami masing-masing jadi kami semua mulai jarang berkomunikasi. Kebersamaan turun, semangat untuk mengajiku pun juga ikut turun. Ditambah lagi keluarga Pak Haji yang pindah kek kota lain karena beliau telah diamanatkan sebagai Ketua Pengurus sebuah pesantren. Itu juga membuat semangatku semakin turun.
Di SMP ini mulailah masa-masa jahiliahku. Aku disini mulai tidak membudayakan yang namanya mengaji. Kerjaanku di masa ini hanyalah sekolah, belajar, bermain, hang out dengan teman-teman, tidur, makan dsb. Tidak ada organisasi. Tidak ada kesibukan yang berarti. Bahkan aku mulai menemukan cinta monyet pertamaku di sekolah ini hehe. Hal itu pun terjadi. Yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Aku pacaran. Dengan seseorang yang dulunya merupakan teman sekelasku di kelas 8. Dia bukan seseorang yang memiliki sifat macam-macam/nakal sih. Dia pendiam, aneh, pintar dan dari keluarga yang beragama tentunya :) Namun kenapa pacaran? Hehe masih SMP itu masa-masa pencarian jati diri, ingin merasakan semua hal yang baru.. itu masa lalu, Sekarang ia sedang menjalani pendidikan dokternya di sebuah kota rantaunya. Meskipun aku pacaran gak ngapa-ngapain. Cuma smsan, ketemu juga malu-malu. (untung sifatku pemalu bukan agresif kalu lihat lawan jenis hehe). Makan dan nonton pun bareng-bareng ber delapan. Wkkw. Gapernah deh berduaan.
Namun hubungan itu harus kandas tepat di hari anniversary ke 7bulan. Sedih? JELAS. Galau? YES. Sakit hati? TENTU. Berantem? Iya, bahkan dia sempet gamau kenal sama aku. Hehe, gaenak deh pokoknya rasanya putus itu. Cuma bisa nangis-nangis dirumah sama mama dan curhat sama Kita Berpada (syska, yogie, farhan). Kesedihan ini lumayan mengganggu psikologisku yang waktu itu aku akan menghadapi Ujian Nasional. Namun, dari kesedihan ini pula yang mulai merubah sedikit banyak mindsetku tentang pacaran dan membuatku ingin lebih jadi orang maju dan berguna lagi. Aku mulai moveon dan mencari quotes-quotes penyemangat untuk menghadapi masa depan yang lebih cerah.
Pengumuman UN SMP ku Alhamdulillah cukup memuaskanku. Menjadi salah satu diantara 10 besar hasil UN tertinggi di SMPku. Kemudian aku melanjutkan sekolahku di SMA Negeri pula. Semangatku dulu ketika SMP bahwa aku ingin menjadi orang yang lebih maju dan berguna lagi masih tersisa di awal masa putih abu-abuku ini. Aku tidak mau jadi orang yang tidak punya kesibukan. Aku ingin sibuk. Aku ingin ikut organisasi. Lalu tidak tanggung-tanggung. Aku pun mendaftar sebuah eskul yang terkenal super duper sibuk dengan jadwal kumpul dan latihannya. Bukan hanya seminggu sekali atau seminggu dua kali. Namun bisa setiap hari!!. Bahkan salah satu seniorku pernah membuat suatu lelucon “Jangan sampai aktivitas sekolah mengganggu aktivitas p*sk*b” hahaha. Gila memang eskul ini. Sibuknya tidak main-main. Bahkan aku tidak sempat merasakan nakalnya anak SMA seperti main ke mall, cafĂ©,dsb. Waktu kami habis untuk sekolah dan latihan. :’)
Tapi aku
bersyukur dipertemukan dengan organisasi ini. Aku bisa bertemu oorang-orang
hebat disini yang penuh dengan motivasi hidup. Aku bertemu dengan teman-teman
yang luar biasa koplaknya. Aku bertemu dengan teman-teman yang unik dan tidak
aku temukan di tempat lain. Aku diajarkan bagaimana mengatur waktu antara
sekolah, organisasi, bantu orang tua, dan bermain. Meski tidak mudah proses
untuk bisa bersyukur itu.
Kegiatanku semakin
sibuk ketika aku naik ke kelas 11. Tambah kelas, tambah tanggung jawab, tambah
beban. Aku menjadi salah satu otak dari sebuah event terbesar eskulku yang
membutuhkan uang puluhan juta. Konflik sangat sering terjadi disini. Belum lagi
masalah dirumah, akademik, dan cinta. Lumayan menguras otak ku aktivitas kelas
11 ini. Disini pula aku mulai terpincut dengan salah satu pria di SMA ku. Dia sering
mengantarjemputku sekolah. Mengantarkanku hingga depan gang rumah (takut
ketahuan tetangga hehe). Lebih parah dengan yang dulu di SMP. Kuantitas “berdua
an” nya lebih sering disini daripada yang di SMP. Aku pikir dia adalah pria
yang benar-benar baik dan setia. Namun ternyata aku s*l*h. Seminggu setelah dia
menyatakan cinta untukku (namun aku tolak karena gak mau pacaran dulu kalo
masih sekolah) dia pacaran dengan wanita lain yang tidak lain tidak bukan adalah tetanggaku!
Hahaha lucu memang kalo mengingat masa-masa kelam itu. Aku banyak menangis
karena merasa telah dibohongi oleh makhluk yang namanya pria. Haha :D. mulai
dari sini mindsetku semakin kuat tentang tidak baiknya berpacaran untuk
psikisku.
Setelah masa-masa kelam itu, ketika aku masuk ke kelas 12 ternyata aku masuk kedalam masa-masa yang lebih kelam lagi. Hahaha. Disini masa-masa penentuan kelulusan dan masuk perguruan tinggi. Entah kenapa di masa ini kemampuan belajarku turun drastis. Aku menjadi tidak focus belajar. Aku banyak merasakan tekanan batin yang entah aku juga bingung karena apa. Nilai-nilai ku menurun di saat nilai teman-temanku yang lain naik. Semangat belajarku turun. Aku sempat benci dengan diriku sendiri pada waktu itu. Aku mulai membudayakan “tidak mencontek” di kelas ini. Semua ujian aku kerjakan sendiri sebisa yang aku mampu. Aku iri pada teman-temanku dulu yang bisa mencontek. Nilai mereka menjadi lebih bagus. Aku sedih karena nilaiku yang berasal dari usahaku sendiri tidak lebih bagus dari mereka. Aku ingin seperti mereka, namun aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur janji pada diri sendiri di awal semester kalau aku harus bisa jujur mulai saat itu dan memegang prinsip itu sampai kapanpun. . Aku terjebak oleh prinsipku sendiri. Aku sedih, gundah, galau. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai memilih untuk banyak berdiam dan merenungi diri.
"Kenapa
aku? ada apa denganku? apa yang aku mau? apa tujuan hidupku?"
pertanyaan
itu seringkali terngiang-ngiang di otakku.
Alhamdulillah
ketika di SMA aku juga ikut sebuah basiswa yang mewajibkan kehadiran presensi
disetiap bulannya di Plaza Mandiri, Jakarta Selatan. beasiswa yang bukan hanya
dapat materi, namun juga rohani yang cukup membantuku untuk melakukan
perjalanan "Hijrah ini. Beasiswa yang berisi remaja-remaja muslim
cendekiawan yang selalu menghadirkan pembicara-pembicara keren pemberi
motivasi hidup untuk hi hari esok yang cerah di jalan yang sangat indah yaitu
jalan Islam. Aku sangat bersukur pernah merasakan sekolah non-formal ini. Aku
teringat suatu materi yang pernah diberikan oleh kakak mentor ku dulu tentang
pertanyaan simple "Apa tujuan hidup kita?" Beliau menanyakan kepada
kami semua apa tujuan hidup kita. kami semua ada yang menjawab untuk
membahagiakan orang tua, untuk menjadi orang berguna, untuk bisa jadi orang
kaya, untuk bisa beribadah, dsb. Namun aku tertegun dengan jawaban yang benar
dari Beliau.
"Semua
jawaban kalian bagus, namun belum tepat.coba pikir-pikir lagi yaa..
Sebenarnya tujuan hidup kita di dunia ini tidak lain dan tidak bukan adalah
untuk Mencari Ridho dari-Nya".
waaaahh. Jawaban yang indah
menurutku.
Buat apa kita kaya tapi tidak di ridhoi oleh-Nya. Toh suatu saat kekayaan itu bisa diambil kapanpun oleh Yang Maha Kuasa. Buat apa kita bisa bahagiain orang tua kalau Allah pun tidak meridhoinya. Orang tua bahagia di dunia,belum tentu mereka akan bahagia d akhirat. Untuk itu sebagai anaknya kita wajib mendoakannya agar mereka kelak selamat di akhirat. Dan doa yang akan di ijabah itu adalah doa anak yang Sholeh. Itu artinya kita harus menjadi anak yang sholeh dan sholehah agar doa kita bisa diijabah. Jika kita melakukan apapun dengan ridho dari-Nya, niscaya apapun aktivitas kegiatannya akan berkah dan menjadi pahala. Oleh karena itu, mulai saat itu aku mulai mengurangi segala aktivitas yang bersifat duniawi semata. Ketika itu tidak bermanfaat, aku tinggalkan. Ketika kegiatan itu bisa membuatku lebih baik untuk lebih dekat dengan-Nya, aku ikuti. Insyaa Allah.
Pikiranku mulai terbuka dengan apa tujuan hidupku semenjak ada di sekolah non-formal itu. Hatiku mulai tenang. Semangat hidupku kembali bangkit. Bahkan ketika aku tidak dapat Perguruan Tinggi Negeri dari jalur Undangan SNMPTN, aku tidak berlarut dalam kesedihan yang terlalu lama. Aku percaya, bahwa ketika aku sudah berdoa “meminta yang terbaik dari-Nya” apapun hasilnya, itulah yang terbaik untukku menurut Allah. Karena:
“Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan
kamu tidak mengetahui.” (T.Q.S. Al-Baqarah: 216)
Dan Alhamdulillah aku keterima di
Universitas impianku dengan jalur ujian mandiri. Jalur yang kata orang lain
jalur yang hebat yang tentunya hanya orang-orang yang hebat pula yang bisa
lolos. Meski aku tidak sama sekali merasa hebat karena saat ujian itu aku lebih
banyak mengerjakan soal dengan ngasal daripada soal yang benar-benar aku
ketahui jawabannya. Aku hanya pasrah dengan doa waktu itu. Dan Alhamdulillah Allah
mengizinkanku untuk berada di kampus impianku ini. Di kampus baruku ini, aku
merasa pergaulannya sangat beda dengan SMA. Disini aku dikelilingi oleh
orang-orang sholeh sholehah dan hebat yang membuat aku minder akan penampilanku
saat itu yang masih sangat awam. Aku dimasukkan ke dalam grup whatsapp yang
sangat aktif menyuarakan dakwah. Handphoneku penuh dengan daily reminder yang
tanpa aku sadari itulah yang menjagaku dari sebuah pertemanan yang tidak
mendatangkan manfaat (selain Allah tentunya). Alhamdulillahirabbil’alamin. Aku dibimbing
oleh teman-teman kampusku yang lebih berpengalaman dalam hal ke Islamannya.
Dibimbing agar melakukan sebuah perjalanan “Hijrah” yang bermuara kepada-Nya.
Terimakasih, Jazakumullah Khairan
Katsiran, semoga bermanfaat ^^
*WWA
Comments
Post a Comment